• Suriah Berdamai, Pengungsi Makin Yakin Pulang

    Kesepakatan damai antara pemerintah Suriah dan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) mulai menunjukkan dampak nyata di lapangan, terutama terkait isu pemulangan pengungsi. Setelah bertahun-tahun konflik bersenjata dan fragmentasi wilayah, kesepakatan ini membuka babak baru yang dinilai krusial bagi jutaan warga Suriah yang hidup sebagai pengungsi internal maupun lintas negara.

    Selama ini, salah satu alasan utama pengungsi enggan pulang adalah lokasi rumah mereka yang berada di wilayah kekuasaan SDF. Banyak dari mereka menyatakan tidak memiliki jaminan keamanan, kepastian hukum, maupun akses terhadap layanan dasar jika kembali ke wilayah tersebut.

    Dengan adanya kesepakatan damai, hambatan tersebut mulai berkurang. Pemerintah Suriah kini kembali mengambil alih puluhan kota dan desa di kawasan Jazirah Suriah, khususnya di Raqqa dan Deir ez-Zor, tanpa disertai gelombang pengungsian baru.

    Fenomena ini menarik perhatian banyak pengamat. Dalam pertempuran dua hari terakhir di wilayah tersebut, tidak tercatat adanya perpindahan massal warga sipil, sebuah kondisi yang jarang terjadi dalam konflik bersenjata di Suriah selama lebih dari satu dekade.

    Ketiadaan pengungsian ini mengindikasikan bahwa warga lokal tidak memandang pasukan pemerintah sebagai kekuatan asing atau musuh. Sebaliknya, mereka dilihat sebagai bagian dari struktur sosial yang sama, yang datang untuk memulihkan otoritas negara dan mengakhiri kekuasaan bersenjata non-negara.

    Selama bertahun-tahun di bawah kontrol SDF, berbagai organisasi pemantau mencatat ratusan ribu pelanggaran yang berdampak langsung pada warga sipil. Tuduhan mencakup penahanan sewenang-wenang, rekrutmen paksa, penyitaan properti, dan pembatasan kebebasan bergerak.

    Kondisi tersebut mendorong banyak keluarga meninggalkan rumah mereka, baik menuju wilayah lain di Suriah maupun ke negara tetangga. Namun kini, dengan perubahan kendali wilayah, persepsi keamanan mulai bergeser secara signifikan.

    Pemerintah Suriah menjanjikan jaminan keselamatan bagi warga yang ingin kembali, termasuk penghapusan hambatan administratif dan pengamanan lingkungan tempat tinggal. Janji ini menjadi faktor penting dalam mendorong gelombang kepulangan.

    Menurut estimasi awal berbasis data pengungsi internal, puluhan ribu orang diperkirakan dapat kembali dalam tahap pertama. Angka ini berpotensi meningkat hingga ratusan ribu jika stabilitas keamanan terus terjaga dan layanan publik mulai berfungsi normal.

    Namun, kepulangan tidak selalu berarti kembali ke rumah yang utuh. Banyak pengungsi menghadapi kenyataan pahit bahwa rumah mereka telah hancur akibat perang, baik karena serangan udara, pertempuran darat, maupun pembongkaran paksa di masa lalu.

    Bagi kelompok ini, pemerintah menyatakan akan menyiapkan alternatif, seperti hunian sementara, program rehabilitasi kawasan, dan bantuan rekonstruksi bertahap. Meski demikian, keterbatasan anggaran dan sanksi internasional tetap menjadi tantangan besar.

    Isu kepemilikan tanah dan properti juga muncul ke permukaan. Banyak warga kehilangan dokumen resmi selama mengungsi, sementara sebagian rumah telah ditempati atau dialihfungsikan selama konflik.

    Pemerintah Suriah menyatakan akan membentuk mekanisme hukum untuk menyelesaikan sengketa properti, termasuk verifikasi kepemilikan dan proses pengembalian aset secara bertahap.

    Di sisi lain, stabilitas keamanan yang relatif terjaga di Raqqa dan Deir ez-Zor memberikan sinyal positif bagi pengungsi yang selama ini ragu. Aktivitas ekonomi lokal mulai bergerak, pasar kembali buka, dan arus barang berangsur normal.

    Para pengamat menilai, absennya pengungsian selama peralihan kendali wilayah merupakan indikator penting dari penerimaan masyarakat lokal terhadap kesepakatan damai ini.

    Bagi warga sipil, yang terpenting bukan hanya siapa yang berkuasa, tetapi apakah kehidupan sehari-hari mereka menjadi lebih aman dan bermartabat. Dalam konteks ini, damai antara Damaskus dan SDF dipandang sebagai peluang untuk mengakhiri siklus ketakutan.

    Namun, keberlanjutan dampak positif ini sangat bergantung pada konsistensi implementasi di lapangan. Pelanggaran baru atau kegagalan memenuhi janji dapat dengan cepat menggerus kepercayaan warga.

    Masyarakat internasional juga diharapkan berperan dalam mendukung pemulangan sukarela, aman, dan bermartabat. Bantuan kemanusiaan dan rekonstruksi menjadi kunci agar kepulangan tidak berubah menjadi krisis baru.

    Kesepakatan damai ini belum menyelesaikan seluruh persoalan Suriah, tetapi bagi para pengungsi, ia menghadirkan sesuatu yang lama hilang: harapan untuk pulang tanpa rasa takut.

    Jika stabilitas ini dapat dipertahankan, pemulangan pengungsi dari wilayah bekas SDF berpotensi menjadi salah satu perkembangan paling signifikan dalam upaya pemulihan Suriah pascakonflik.

  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

loading...